Air Mata di Layar Kaca

Air Mata di Layar Kaca

(Komodifikasi Kemiskinan dan Kegagapan di Televisi)

Oleh: Lukas Deni Setiawan

 Anatomi Program

Program televisi “Jika Aku Menjadi” (JAM)[1] adalah salah satu program features yang ditayangkan oleh stasiun televisi nasional Trans TV[2]. Program ini termasuk output divisi pemberitaan. Sejauh ini, program tersebut ingin menampilkan dua hal. Pertama, kehidupan orang-orang miskin. Kedua, orang kota yang didaulat untuk merasakan kehidupan orang-orang miskin tersebut. Melalui kedua hal ini, Trans TV ingin menunjukkan bahwa orang-orang miskin tersebut mempunyai kehidupan yang kurang beruntung. Hal ini ditunjukkan dengan keadaan mereka yang masih juga serba kekurangan walaupun sudah memiliki lebih dari dua mata pencaharian. Bersamaan dengan itu, Trans TV juga ingin menunjukkan kegagapan warga kota, terutama orang-orang yang biasa hidup berkecukupan, dalam menjalani kehidupan orang-orang yang kurang beruntung tersebut.

Melalui program ini, nilai-nilai kehidupan semacam kesederhanaan, ketabahan, kejujuran, kekuatan batin dan empati memenuhi layar kaca. Khalayakpun diharapkan dapat menerima informasi yang memuat nilai-nilai tersebut melalui penggambaran kehidupan dan perjuangan narasumber miskin yang dikombinasikan dengan cultural lag warga kota (dalam hal ini lazim disebut talent) yang diminta terjun langsung untuk mengalaminya. Saat peliputan, reaksi spontan, baik dari narasumber maupun talent tersebut, diharapkan dapat berlangsung seorisinal mungkin, supaya pemirsa seakan-akan dapat ikut merasakan emosi mereka.

Persoalannya adalah: bagaimana memancing reaksi yang menarik baik dari talent maupun narasumber tersebut? Di sinilah proses peliputan untuk program Jika Aku Menjadi memerlukan pengkondisian.

Pengkondisian ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan materi visual. Materi visual, dalam konteks televisi, merupakan penyeimbang materi audionya (narasi). Keduanya berjalan beriringan. Bila narasi menceritakan kesibukan keseharian narasumber, maka gambar yang tampil diusahakan dapat menolong imajinasi yang terbentuk di benak khalayak tentang pernyataan tersebut. Misalnya, ada seseorang (biasanya narasumber mewakili dirinya sendiri) yang sedang mengerjakan beberapa kegiatan sebagai representasi kesibukannya.

Gambar sederhana seperti ini akan memakan banyak waktu jika sang kamerawan harus menunggu sampai tiba hari dan jam di mana narasumber biasa pergi melakukan pekerjaannya. Maka untuk menghindari pemborosan waktu, tenaga dan uang (budget liputan) serta keharusan untuk segera tayang (misalnya di minggu depan, sesuai jadwal yang telah ditentukan sebelumnya), sang kamerawan biasanya meminta tolong kepada narasumber untuk melakukan pekerjaannya walaupun belum tiba waktu di mana narasumber tersebut benar-benar ingin pergi menangkap bekerja. Pengkondisian seperti ini sering pula disebut sebagai pengadeganan.

Dalam kasus program “Jika Aku Menjadi”, gambar yang ditunggu-tunggu adalah reaksi sang talent saat melakukan pekerjaan narasumber yang notabene belum pernah ia alami atau bahkan ketahui sebelumnya. Reaksi tersebut bisa jadi sebuah kejenakaan, ketakutan, kesedihan dan lain-lain. Oleh karena itu, untuk membuat program ini menjadi lebih menarik, ditampilkan pula gimmick[3]. Sebagian besar gimmick tersebut sudah ada skenarionya. Hal ini sengaja dibuat atau direkayasa untuk menimbulkan efek kejut bagi pemirsa.

Program “Jika Aku Menjadi” di Trans TV ini masuk dalam kerangka kerja divisi pemberitaan. Oleh karena itu, program ini diharapkan dapat menjadi output kerja jurnalistik. Informasi yang disampaikan hendaknya mengandung sifat materi yang faktual. Sifat materi ini terwujud dalam satuan teknis yang terdiri dari ambilan kamera (shoot), adegan (scene) dan sekuen (sequence). Untuk membedakan dari produk fiksional, produksinya tidak bertolak dari rekayasa satuan teknis tersebut, melainkan dari kondisi fakta yang dihadapi. Materi faktual ini fungsinya bagi khakayak bersifat pragmatis sosial yang membawa khayalak ke alam sosial (luar). Berbeda dengan materi fiksional yang bersifat pragmatis psikologis yang membawa khalayak ke alam dalam diri (inner).[4]

Kemiskinan Sebagai Komoditas

Nilai ekonomi mampu memberi luapan keuntungan kepada pengelola stasiun televisi swasta. Hal ini wajar, karena mereka butuh hidup. Namun, ketika kepentingan ekonomi ini menjadi dominan dan bahkan melumat kepentingan-kepentingan yang lain, katakanlah kepentingan khalayak televisi itu sendiri, maka patut diketahui lebih lanjut sejauh mana proses tersebut telah bergulir. Indikasi terhadap hal ini dapat kita telusuri dari penayangan program-program seperti “Jika Aku Menjadi” yang menafikan sebagian prinsip-prinsip jurnalisme untuk mengejar kepentingan efektivitas dan efisiensi produksi berdasarkan tuntutan ekonomis (menjaga lebarnya jarak antara biaya produksi dengan pemasukan melalui iklan).

Kilasan anatomi program tersebut di atas menunjukkan bahwa di samping menampilkan kehidupan masyarakat yang miskin dalam hal kepemilikan materi, program tersebut juga menampilkan kesenjangan budaya antara pemuda-pemudi perkotaan yang biasa hidup mapan dengan kehidupan masyarakat yang pas-pasan. Tayangan ini diselingi oleh penampilan iklan-iklan yang menjual produk/jasa lintas segmen masyarakat. Oleh karena itu, dapat diindikasikan bahwa tayangan tersebut memperlihatkan paling tidak tiga hal, (i) kemiskinan yang tidak dijelaskan secara menyeluruh (parsial). (ii) tayangan ini mengandaikan bahwa khalayak televisi mempunyai solidaritas yang tinggi kepada sesamanya, dan (iii) sikap solidaritas khalayak inilah yang sebenarnya dipakai sebagai dasar berlangsungnya produksi tayangan dan layak untuk dijual kepada pengiklan.

Tayangan ini hanya memperlihatkan kemiskinan pada permukaannya saja. Ia tidak menjelaskan secara detail dan menyeluruh penyebab dari keadaan miskin tersebut. Jadi khalayak tidak perlu berpikir terlalu rumit untuk memahaminya. Tayangan ini memandang bahwa khalayak sudah dapat jatuh iba dengan tampilan kemiskinan yang sudah apa adanya. Kemiskinan ditampilkan sebagai sebab yang berasal dari dalam diri atau dari sekitar orang miskin yang bersangkutan. Ia tidak menjelaskan faktor-faktor struktural yang bisa jadi adalah faktor dominan dari munculnya kemiskinan itu.[5] Hal ini sebenarnya mereduksi rasionalitas khalayak yang diandaikan dapat merasa dan memutuskan pilihan-pilihan rasionalnya terhadap realitas sosial hanya berdasarkan orientasi pada hasil, bukan hasil sekaligus prosesnya. Khalayak tidak perlu mengernyitkan dahi ketika menonton tayangan ini. Sebab mereka digiring untuk tidak perlu mengetahui fakta yang mengejutkan tentang kemiskinan Indonesia.[6]

Program ini mendeskripsikan kemiskinan secara dangkal dan tidak menyeluruh. Ia tidak melihat lebih jauh mengapa kemiskinan itu hadir di tengah-tengah masyarakat. Oleh karenanya, program ini tidak menawarkan pilihan-pilihan rasional kepada khalayak untuk memerangi kemiskinan tersebut. Kemiskinan ditawarkan untuk menjadi hiburan dan sekadar mengaduk-aduk emosi khalayak. Selebihnya, pengiklan menikmati keuntungannya.

Orang miskin dan pemuda-pemudi kota ditampilkan tidak lain untuk menarik khalayak dengan segmen yang lebih luas. Segmen masyarakat yang dirujuk bukan hanya khalayak yang mempunyai solidaritas tinggi kepada kemiskinan di negara ini, tetapi orang-orang kota yang notabene sering dijadikan tolok ukur dalam mencoba hal-hal baru. Baik dalam hal cara berpakaian, cara berkumpul dan minum kopi, jenis-jenis makanan baru, pilihan musik dan gadget mutakhir, orang kota-lah yang menjadi prototype-nya. Dan di sini, orang kota tersebut diminta untuk mencoba hal baru bagi kehidupan mereka sehari-hari, yaitu kemiskinan itu sendiri. Hal ini sebenarnya erat kaitannya dengan iklan-iklan yang tampil di sepanjang tayangan tersebut. Dengan sikap konsumerisme tinggi orang-orang kota itu, pengelola televisi lebih mudah menjual slot iklannya kepada para pengiklan dari jenis produk/jasa apapun yang segmentasinya untuk orang kota atau menengah ke atas. Hal ini mengacu pada pendapat Oscar H. Gandy Jr. (2004) yang menyatakan bahwa “The valuation of audiences extends beyond simple measures of income to include specific special categories. On the average, advertisers pay higher rates per thousand for young, ….”[7]

Hanya sedikit orang yang mau menjadi pionir. Dan banyak orang hanya mau menjadi pengikut saja. Mereka tidak mau susah-susah mencoba untuk pertama kali. Pencicipan terhadap hal-hal baru di atas juga menunjukkan hal ini. Jika para pencicip tersebut ternyata sukses dan percaya diri dengan hal baru tersebut, maka banyak orang akan mengikutinya. Hal yang sudah mapan menarik perhatian banyak orang. Solidaritas seperti inilah yang juga menjadi lahan subur bagi para pengiklan. Pintarnya pengelola tayangan ini dalam menampilkan pemuda-pemudi perkotaan tidak terlepas dari banyaknya para pengiklan yang mengantri untuk ingin segera memperkenalkan produk/jasanya kepada para pionir tersebut. Mengenai hal ini, Don Heider (2000) menambahkan: “When we shift our attention in the newsroom, however, we have reason, to be concerned when we learn than producers are selecting stories in order to supply audiences in colors that their advertisers demand.”[8]

Di sini telah terindikasi bahwa kecenderungan masyarakat untuk mencoba hal baru atau mempertahankan kepemilikannya tidak dapat dipisahkan dengan konstruksi sosial dan psikologis yang mereka pelajari dari tayangan televisi. Dan tayangan televisi pun semakin menegaskan dan menguatkan hal ini dengan melandaskan tampilannya dari solidaritas-solidaritas maupun proses-proses pembentukan identitas yang beredar di masyarakat. Para pengiklan menggarap hal ini dengan sungguh-sungguh. Hal ini sebenarnya dapat sedikit menjelaskan mengenai apa yang dimaksud dengan proses transformasi dari nilai guna menjadi nilai tukar dalam media massa yang selalu melibatkan para awak media, khalayak pemirsa, pasar dan negara dengan kepentingannya masing-masing. Dalam bingkai strukturasi, antara agen (khalayak televisi) dan struktur proses pembentukan tayangan hingga penyiaran (termasuk keterlibatan iklan) tidak dapat dipisahkan dan saling menguatkan.

Hal ini dipertegas oleh beberapa ahli ekonomi-politik media, seperti Bettig dan Hall (2003), McChesney (2004), Meyer (2006), Murdock dan Wasko (2007), melalui pendapat berikut:

“Mass media in capitalist society have expanded the process of commodity production by, among other things, producing messages that reflect the interest of capital. Trough however circuitous, contradictory, and contested of process, these messages advance support of the interests of capital as a whole as well as for specific segments of capital.”[9]

Pengelola televisi pun mendapatkan keuntungan ganda dengan ekspos kemiskinan ini. Keuntungan material dari pengiklan dan sekaligus keuntungan moral dari khalayak. Keuntungan moral ini diharapkan dapat muncul dari tayangan pemberian hadiah yang tergolongan besar kepada orang miskin bersangkutan di setiap akhir tayangan. Khalayak yang penuh solidaritas tersebut diharapkan akan terkuras emosinya seiring dengan tumpahnya air mata sang talent (pemuda-pemudi) saat memberikan hadiah kepada narasumber.

Komodifikasi Audiens

Menurut Vincent Mosco (1996), komodifikasi adalah perubahan nilai guna menjadi nilai tukar.[10] Dalam kasus ini, program “Jika Aku Menjadi”, selain melakukan komodifikasi terhadap isi media (kemiskinan), juga mengarah kepada bentuk lain dari komodifikasi, yaitu komodifikasi audiens. Komodifikasi jenis ini merupakan proses yang dilakukan oleh media untuk menghasilkan sebanyak mungkin penonton. Porgram-program televisi semacam ini digunakan untuk menarik khalayak dan pada gilirannya nanti perusahaan yang hendak mengakses khalayak tersebut menyerahkan kompensasi material tertentu kepada media bersangkutan.[11]

Sebelum Mosco, pada tahun 1970-an, beberapa pengamat media telah merumuskan bahwa ada sisi lain kepentingan media, terutama televisi komersial, dilihat dari perspektif ekonomi-politik. Pernyataan berikut dapat mewakili pendangan tersebut:

“Contrary to what many people think, the product of commercial television stations is not programs but audiens. They try to make as much profit as possible by selling audiens to advertisers at price that are listed in dollars per thousand viewers per minute of commercial time.”[12]

Dalam bingkai komodifikasi audiens ini, kebutuhan audiens cenderung tidak terlalu diperhatikan. Kepentingan pengiklanlah yang menjadi patokan utama. Keadaan ini mendorong media komersial untuk menjadikan audiens sebagai komoditas. Peran khalayak sebagai warga (citizen) direduksi menjadi hanya sekadar sebagai target konsumen. Hal ini terjadi tatkala frekuensi mengkonsumsi pesan media direpresentasikan dalam angka oleh perusahaan survei untuk dijadikan patokan para pengiklan dalam memproduksi dan memasang iklan produk/jasanya pada program-program tertentu. Sebagai konsumen, audiens cenderung akan dipilah-pilah sesuai dengan target produk yang akan ditawarkan. Pemilahan ini dapat dilakukan berdasarkan usia, kelas sosial, ras, gender maupun etnis yang diasumsikan masih menjadi patokan masyarakat dalam melakukan interaksi sosial. Hal ini diperkuat oleh pandangan Dallas Smythe (1977) yang menyatakan bahwa “ … the media’s primary function is to create stable audiens blocs for sale to monopoly capitalist advertisers, thereby generating prospensities to consume which complete the circuit production.”[13]

Dalam program “Jika Aku Menjadi”, kemiskinan yang dangkal ditampilkan bersanding dengan spontanitas kegagapan pemuda-pemudi perkotaan. Dalam satu layar dan sekuen yang sama, dua bentuk komodifikasi berjalan beriringan. Tidak ada pemuda-pemudi kota—yang notabene sudah mapan tersebut—ingin menjadi kaum miskin. Tetapi bila hanya sekadar mencicipi atau merasakannya sebagai hal baru dan patut dicoba, mengapa tidak? Bagi media, di sinilah terletak karakter anak muda yang layak jual, yaitu pionir-isitasnya. Mereka disandingkan dengan sesuatu yang kontras dengan kehidupan mereka sehari-hari untuk menarik pengiklan yang produk/jasanya menyasar kaum muda perkotaan. Trans TV sendiri dalam website-nya menegaskan hal ini: ”Penonton dalam paket program ini diwakili oleh talent, yang berasal dari (katakanlah) kelas A B. Dalam tayangan ini akan dieksploitasi.”[14]

Karakter talent yang terpilih ini dapat mewakili anak muda yang lain dan masyarakat menengah atas perkotaan pada umumnya. Sifat keterwakilan ini berhubungan dengan khalayak sasaran program ini. Ia ingin menyasar khalayak yang lebih luas, yaitu khalayak muda dan masyarakat perkotaan. Oleh karena itu, kemiskinan yang ringan dan “enak” dinikmati, kegagapan kebiasaan dan representasi anak muda perkotaan menjadi tiga hal yang diharapkan dapat mendongkrak rating program.

Secara psikologis, ada sebagian khalayak yang menikmati media untuk menjaga rasa aman dan nyaman ketika media mengangkat isu sosial yang tidak nyaman, seperti kemiskinan, bencana alam, korban casino online wabah penyakit, maupun kerusuhan. Melalui tayangan semacam itu, tipe khalayak yang demikian dapat menikmati atau bahkan bahkan sanggup berempati dengan isu yang ditampilkan oleh media, namun enggan bila harus bersentuhan dengan isu tersebut secara langsung. Ini merupakan sebuah bentuk kepuasan psikologis khalayak yang akan semakin mapan bila ada keterwakilan di dalam layar. Maka, televisi, dalam format hard-news sering menempatkan reporternya di tengah korban bencana, sisa-sisa bangunan yang hangus terbakar, maupun kerusuhan yang sedang berlangsung. Sementara dalam format features, televisi menempatkan talent yang relatif cantik/tampan, berkulit putih, bersih dan tidak berjerawat.

Ideologi, Bisnis dan Moral Media

Media, melalui pola kepemilikan dan produk-produk yang disajikan, adalah perangkat ideologis yang melanggengkan setidaknya dua kepentingan, yaitu (i) Dominasi kelas pemodal terhadap publik yang diperlakukan semata-mata sebagai konsumen, dan (ii) Pemegang kekuasaan untuk memuluskan lahirnya regulasi-regulasi yang pro pasar. Dalam hal yang pertama, media juga menjadi medium pengiklanan utama yang secara signifikan mampu meningkatkan penjualan produk barang dan jasa.[15]

Dominasi kelas pemodal terhadap kehidupan media ini, terutama dalam hal isi yang disajikannya, cenderung menyeret media ke arah homogenisasi tayangan. Antara media yang satu dengan media yang lain semakin tidak dapat dilihat perbedaannya, sebab apa yang tampil di media adalah apa saat itu laku untuk pasar. Jika salah satu media berhasil memproduksi program yang mempunyai rating tinggi, media lain serempak mengikuti—sekalipun pada awalnya satu media tersebut hanya sekadar mengadopsi salah satu program laris dari media luar negeri.[16] Angan-angan publik akan keberagaman tayangan dan pilihan sudut pandang dalam menilai sebuah fenomena sosial melalui media, patah di tengah jalan.

Hal ini bukanlah fenomena khas Indonesia. Di Amerika dan Eropa, fenomena yang sama, seperti dirumuskan oleh Fortunato (2005), tidak jauh berbeda keadaannya: “Once content become sellable to large audience, almost by definition it sellable to advertisers. The only messages that get produced are those that are acceptable to the audience and advertisers and nothing extreme that could offend a mass audience.”[17] Gomery (2000)[18] menguatkan hal ini. Ia mengatakan bahwa: “The ownership of the mass media in the United States is of vital interest. These vast institutions influence what we know, the images of ourselves and the bulk of the way we spielautomaten online amuse and entertain.”

Hal ini merupakan salah satu indikasi bahwa parameter pengelola media dalam memproduksi program baru bukanlah berdasarkan pertimbagan kepentingan khalayak (kebutuhan publik), melainkan keuntungan semata. Sekalinya berbeda, ada bias politik di belakangnya.[19] Apabila keseragaman It is no wonder then that you are far more sensitive than any of the other best-horoscope.com Decans. ini masih menguntungkan, berapa episode pun akan dijalankan. Selama satu jenis program bisa menggaet banyak khalayak, para pengiklan tidak akan memindahkan pundi-pundi uangnya dari program tersebut. Pertalian antara media-audiens-pengiklan ini tidak mudah diputus, bahkan oleh pergantian rezim. Hal inilah yang menyebabkan persoalan tersebut menjadi bersifat holistik. Ia, baik langsung maupun tidak, dapat menyentuh hampir seluruh sendi kehidupan kita.

Pertalian tersebut (banyaknya pengiklan yang ingin memasang produk/jasanya di slot ini) pernah membawa program “Jika Aku Menjadi” tayang setiap hari—walaupun kini sudah kembali ke jadwal tayang semula yaitu dua kali seminggu, hari sabtu dan minggu. Durasinya pun bertambah dari setengah jam menjadi satu jam. Menurut pengamatan penulis, program ini untuk satu episode membutuhkan kru sebanyak 5-6 orang yang dituntut untuk mengerjakannya dalam 6-7 hari. Jika 5-6 kru hanya bisa mengerjakan katakanlah satu episode dalam seminggu, maka berapa banyak kru yang dibutuhkan untuk mengejar target tayang satu hari. Bisa kita bayangkan kerepotan manajemen Divisi Pemberitaan Trans TV saat harus meladeni permintaan tersebut, sementara progam lain harus tetap tayang sesuai jadwal. Salah satu jalan keluarnya adalah memperpendek durasi pengerjaan dan waktu istirahat kru. Di sinilah para jurnalis itu terseret oleh permintaan bisnis.[20]

Penutup

Kita mungkin jadi mafhum, mengapa kemiskinan yang direpresentasikan oleh program “Jika Aku Menjadi” ini menjadi—semakin—banal. Dan banalitas tersebut dipaketkan bersama para talent untuk ditawarkan menjadi sebuah tontonan hiburan yang “enak” dinikmati. Alhasil, program ini beranjak menjauh dari pemberian dorongan sosiologis kepada khalayak untuk memikirkan lebih lanjut apa yang telah disajikan televisi. Ia lebih berkecimpung dalam ranah psikologis, yaitu kepuasan karena penat dapat terlepas seiring kegagapan dan air mata sang “tokoh” dalam tayangan. Sementara itu, kemiskinan dan penyebab-penyebab strukturalnya tidak direpresentasikan secara proporsional dan lebih kritis. Pemilik media dan pengiklan pun tetap melanjutkan pertaliannya hingga khalayak “menghendaki” tontonan baru—yang mungkin tidak jauh berbeda kadar hiburan dan komodifikasinya.[]


[1] JAM adalah program majalah berita yang menyuguhkan informasi langsung seputar kehidupan kalangan kelas bawah (pemulung, nelayan, buruh panggul pasar, kuli panggul pelabuhan, petani penggarap, penangkap kalong, buruh pemetik jamur, tukang kayu, tukang ojek sepeda, dll.). Informasi dalam JAM ditujukan untuk memberi pemahaman, empati dan simpati pada masyarakat bawah. Tidak dengan cara karitas atau membagi-bagi uang/barang/renovasi rumah (seperti program di stasiun-stasiun TV lain), tetapi dengan menampilkan keseharian mereka di rumah, di lingkungan sekitar, di tempat kerja dan sebagainya. Lihat http://www.transtvnews.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=53&Itemid=106.

[2] Trans TV (PT. Televisi Transformasi Indonesia) adalah salah satu stasiun televisi nasional selain Trans7 (PT. Duta Visual Nusantara Tivi Tujuh) yang merupakan anak perusahaan Trans Corp (PT. Trans Corporation). Trans Corp sendiri sebelumnya bernama PT. Para Inti Investindo, yaitu unit usaha CT Corp di bidang media, gaya hidup dan hiburan. Pada awalnya, Trans Corp didirikan sebagai penghubung antara stasiun televisi Trans TV dengan stasiun televisi yang baru saja diambil alih 49% kepemilikan sahamnya oleh CT Corp dari Kelompok Kompas Gramedia, Trans7 (dulunya TV7). Trans Corp dimiliki oleh CT Corp yang dimotori oleh Chairul Tanjung. Profil selengkapnya mengenai Trans TV dan kerajaan bisnis Chairul Tanjung dapat disimak melalui http://ctcorpora.com/index.html.

[3] Kejadian lucu, mengejutkan, mengkhawatirkan, mencengangkan, maupun hal-hal di luar kebiasaan lainnya yang dapat membuat adegan menjadi lebih hidup dan menarik.

[4] Ashadi  Siregar. 1997. “Televisi dan Nilai-Nilai Sosial dalam Masyarakat”. dalam Dedy Mulyana dan Idy Subandi Ibrahim (Ed.). Bercinta dengan Televisi: Ilusi, Impresi, dan Imaji Sebuah Kotak Ajaib. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. hal. 275-284.

[5] Refleksi kemiskinan yang disebabkan oleh faktor struktural dapat kita lihat dalam beberapa hasil penelitian mengenai kehidupan masyarakat pedalaman dan nelayan yang dilakukan oleh Syarif Ibrahim Alqadrie di Kalimantan Barat. Dalam kesimpulannya, Alqadrie mengemukakan: “Dengan demikian berkurangnya penghasilan penduduk dan timbulnya kesenjangan sosial yang terus melebar yang menciptakan kemiskinan absolut maupun kemiskinan relatif sering lebih berkaitan dengan kebijaksanaan yang ditempatkan dari atas, sistem ekonomi yang membelenggu dan eksploitatif. Tidak adanya akses terhadap sumber ekonomi sebagai akibat kurangnya kontrol daerah terhadap aset di daerah, kebijaksanaan pembangunan yang terlalu sentralistik, pelaksanaan atau implementasi kebijaksanaan dan pengawasan yang tidak melindungi atau berfihak pada si miskin/kelompok lemah.” Ringkasan hasil penelitian tersebut dapat disimak lebih lanjut dalam Syarif Ibrahim Alqadrie, “Kemiskinan atau Pemiskinan? Di Kalimantan Barat: Kesenjangan Antara Apa yang Tampak dengan Realitas Sesungguhnya”, dalam Didik J. Rachbini (ed.), Negara dan Kemiskinan di Daerah, Jakarta: International NGO Forum on Indonesian Development, 1995, Hal. 136-166.

[6] Angka kemiskinan negara ini pada tahun 2009 yang mencapai angka 33,7 juta jiwa. Menurut perhitungan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) angka itu dapat terjadi jika ekonomi cuma tumbuh 4,5% dan inflasi lari sampai 9%. Meski angka ini dibandingkan dengan tahun 2008 tidak jauh berbeda yakni 34, 96 juta jiwa. Lihat http://umum.kompasiana.com/2010/02/12/bisnis-kemiskinan-yang-menjanjikan/

[7] Lihat Oscar H. Gandy Jr. 2004. Audiences on Demand. dalam Andrew Calabrese dan Colin Sparks. Toward a Political Economy of Culture. Rawman & Littlefield, Inc.: Lanham. Boulder. New York. Toronto. Oxford. Hal. 327-341.

[8] Dalam Oscar H. Gandy Jr. Ibid. hal. 331. Catatan: Walaupun isu yang digelontorkan Heider ini berkonteks pembedaan audiens berdasarkan ras dan warna kulit, namun menurut hemat penulis, analisis ini bisa dipakai untuk konteks pembedaan audiens berdasarkan umur dan psikografisnya.

[9] Lihat Vincent Mosco. 2009. The Political Economy of Communication. 2nd Edition. Sage: Los Angeles. London. New delhi. Singapore. Washington DC. Hal. 134.

[10] Seperti dinyatakan oleh Vincent Mosco: Commodification is the proses of transforming use values into exchange values. Dalam Vincent Mosco, Political Economy of Communications, Sage, London, 1996, hal. 129. Dalam buku ini, Mosco juga mengidentifikasi empat bentuk komodifikasi, yaitu komodifikasi isi, komoditas khalayak, komoditas cybernetic (komodifikasi instrinsik dan ekstrinsik) dan komodifikasi tenaga kerja. Seperti disarikan oleh Muhamad Mufid, dalam Muhamad Mufid, Komunikasi dan Regulasi Penyiaran, Jakarta: Kencana, 2005, Hal. 87-88.

[11] Muhamad Mufid, ibid., hal. 88.

[12] Charlenne J. Brown, Trevor R. Brown dan William L. Rivers, The Media and The People, Holt, Rinehard and Winston: USA, 1978, Hal. 117.

[13]Dedy N. Hidayat, “Jurnalis, kepentingan Modal dan Perubahan Sosial”, dalam Dedy N. Hidayat et.al, Pers dalam “Revolusi Mei”, Runtuhnya sebuah Hegemoni, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2000, hal. 432.

[14] Lihat http://www.transtvnews.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=53&Itemid=106

[15] Agus Sudibyo, Ekonomi Politik Media Penyiaran, Yogyakarta: LKiS, 2004, hal. 1.

[16] Seperti diungkapkan Bimo Nugroho bahwa untuk menjaga kehidupan media penyiaran yang lebih baik, paling tidak ada tiga prinsip dasar yang harus terus diperjuangkan. Pertama, prinsip kebebasan berekspresi. Kedua, prinsip frekuensi milik publik. Dan ketiga prinsip demokrasi. Prinsip terakhir ini mencakup diversity of ownership (keberagaman pemilik) dan diversity of content (keberagaman isi). Lihat Bimo Nugroho, “Sebuah Pengantar: Dari Langit yang Terbuka”, dalam Agus Sudibyo, Ibid., Hal. xxvi-xvii.

[17] John A. Fortunato, Making Media Content: The Influence of Constituency Groups on Mass Media, New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates, 2005, Hal. 97.

[18] John A. Fortunato, Ibid., Hal. 92-93.

[19] Salah satu grup media besar di Indonesia tidak lagi menyebut peristiwa tergenangnya sekian puluh desa di Sidoarjo oleh semburan lumpur dengan istilah Lumpur Lapindo (salah satu perusahaan yang masih berada di bawah naungan kepemilikan yang sama dengan grup media bersangkutan) tetapi Lumpur Sidoarjo.

[20] Massocco (1994:27) mengemukakan: “When you work in broadcasting, it is very hard not to become an agent for the political economic interests of those who employ you.” Dalam John A. Fortunato, Ibid., Hal. 97.

 

Referensi:

Brown, Charlenne J., Trevor R. Brown dan William L. Rivers. 1978. The Media and The People. Holt, Rinehard and Winston: USA.

Calabrese, Andrew dan Colin Sparks. 2004. Toward a Political Economy of Culture. Rawman & Littlefield, Inc.: Lanham. Boulder. New York. Toronto. Oxford.

Hidayat, Dedy N. et.al. 2000. Pers dalam “Revolusi Mei”: Runtuhnya Sebuah Hegemoni, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

John A. Fortunato. 2005. Making Media Content: The Influence of Constituency Groups on Mass Media. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates.

Mosco, Vincent. 2009. The Political Economy of Communication. 2nd Edition. Sage: Los Angeles. London. New delhi. Singapore. Washington DC.

Mufid, Muhamad. 2005. Komunikasi dan Regulasi Penyiaran. Jakarta: Kencana.

Rachbini, Didik J. (ed.). 1995. Negara dan Kemiskinan di Daerah. Jakarta: International NGO Forum on Indonesian Development.

Siregar, Ashadi. 1997. Televisi dan Nilai-Nilai Sosial dalam Masyarakat. dalam Dedy Mulyana dan Idy Subandi Ibrahim (Ed.). Bercinta dengan Televisi: Ilusi, Impresi, dan Imaji Sebuah Kotak Ajaib. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Sudibyo, Agus. 2004. Ekonomi Politik Media Penyiaran. Yogyakarta: LKiS.